Bikini Pecas Ndahe

Abis mbaca blognya ndorokakung, trus gw ganti potonya, jadi Avril hehe.. Judulnya asik juga. Pretty in Punk


“Patutkah seorang perempuan memakai bikini?” seseorang bertanya.

“Kenapa tidak?” jawab saya. “Apa masalahnya?”

“Bagaimana jika perempuan itu mempertontonkan bikininya ke khalayak? Itu sama saja dengan membuka aurat, kan?” dia bertanya lagi.

Aha, saya tahu ke mana arah pertanyaannya. Saya pun balas bertanya. “Bagaimana jika yang memakai bikini itu Putri Raemawasti, peserta Miss Universe dari Indonesia?”

Dia nyengir. Saya juga. Kami sama-sama ndak punya jawaban. Kami berdua bukan orang yang patut mengeluarkan fatwa ini dan itu. Tidak juga punya wewenang mendukung atau melarang apa pun.

Kita tahu dan lihat di media massa, pekan lalu beredar foto Putri yang berbikini kuning dengan potongan halter neck itu. Dia terlihat subur, montok, dan sintal. Lotion yang dibalurkan ke seluruh tubuh membuatnya lebih berkilau. Dan hot?

Hot mungkin kata yang kurang tepat karena berkonotasi negatif. Saya lebih suka menyebutnya atraktif. Mungkin kurang tepat juga. Entahlah, terserah sampean mau menyebutnya apa.

Bukan sekali ini penampilan bikini peserta pemilihan miss ini dan itu dari Indonesia memicu kontroversi. Dulu ada Titi DJ, lalu Alya Rohali, terus siapa lagi itu. Saya ndak hapal semuanya. Setiap kali ada event yang sama, dengan penampilan bikini orang kita, selalu saja terjadi pro dan kontra. Sampean ada di kubu yang mana?

Ah, pasti sampean membela mereka. Saya tahu karena sampean tergolong blogger yang berpikiran terbuka, maju, liberal, kebarat-baratan. Tapi, sampean mungkin bukan blogger yang berakhlak mulia.

Sampean pasti blogger sontoloyo, yang mendukung pornografi dan pornoaksi. Sampean jelas termasuk mereka yang lebih memilih neraka ketimbang sorga. Saya tahu itu.

Apa? Oh, sampean menentang mereka? Sampean tak setuju wanita memakai bikini di panggung? Wah, bagus itu. Sip. Sepakat. Berarti sampean tergolong orang yang berakhlak mulia. Pintar membedakan mana yang sopan dan tidak.

Saya berdoa moga-moga sampean masuk sorga karena sampeanlah pemegang kuncinya. Nanti, saya nunut sampean saja.

Tapi, sebentar. Saya mau tanya bagaimana komentar Paklik Isnogud perihal bikini ini. Menurut sampean bagaimana, Paklik?

“Ah, embuhlah, Mas. Saya ndak ngurusin bikini-bikinian atau miss-missan kayak gitu. Saya lagi males mikirin apa-apa. At the end of the day, you can’t trust anything but goats and silence,” jawab Paklik sedikit ogah-ogahan.

“Halah, nggaya pakai boso Inggris. Saya tahu, Paklik. Sampean pasti mengutip Miss Quodling dalam lakon Night on Bald Mountain karya Patrick White. Dan, saya dengar, ia mengucapkan kalimat itu dengan nyeri, persis seperti sampean sekarang. Iya kan, Paklik?”

“Semprul!” teriak Paklik.

Saya ngakak.

>> Selamat hari Senin, Ki Sanak. Apakah sampean merasa nyeri hari ini?

mmm.. karakter orang beda-beda. Sesuatu yang terkenal pasti punya pro dalam kuantitas yang besar, atau juga kontra dalam kuantitas yang besar.

... others choose, and we growth with our characteristics.

1 comment:

  1. weleh, bingung aku mo ngometarin apa...
    tulisanmu ni dalem n abstrak, otakku belum nyampe sana kali ya? huehuehuehue...

    ReplyDelete